Padahal, putra al-Faruq itu telah berhaji enam puluh kali, umrah seribu kali dan memerdekakan budak seribu kali. Inilah jiwa yang bersemangat untuk berlomba, cinta akan kemajuan, tidak terpedaya oleh besarnya karya yang telah ia lakukan. Dia melihat sisi kurang dan aibnya, bukan berbangga dengan tabungan amal yang telah dikerjakannya. Karena orang yang tidak menyadari cacat diri, dia tak mungkin bisa menyingkirkan cacat itu dari dirinya.
Tapi, kebanyakan orang begitu mudah melihat aib dan kesalahan orang, meskipun sepele dan remeh. Namun betapa sulit mencari kekurangan dan kesalahan sendiri, meskipun nyata dan kentara. Umumnya manusia tak ingin dicela, tak ingin dianggap salah, meskipun penilainya diri sendiri. Hanya sedikit dari segunung dosa yang umumnya masih diingat oleh pelakunya. Di antara yang sedikit itupun, sangat sedikit yang ditindaklanjuti dengan taubat.
Tidak demikian halnya dengan kebaikan, rasanya sulit seseorang melupakan jasa dan amal yang telah dia kerjakan. Padahal mengingat kesalahan umumnya lebih berfaedah dari mengingat kebaikan. Mengingat keburukan akan melahirkan taubat dan menggantinya dengan kebaikan. Tapi mengingat kebaikan akan mendatangkan ujub, merasa telah beramal cukup dan melalaikan taubat.
Sadar akan kekurangan diri menjadi pintu terbuka untuk menerima nasihat. Dia tidak tertarik dengan pujian orang yang justru melenakan. Untuk itulah, ketika seseorang memuji kebaikan Muhammad bin Wasi’ beliau berkata, “Andai dosa itu mengeluarkan bau busuk, niscaya tak seorangpun betah berada di sampingku.” Seringkali kita lupakan dosa-dosa kita. Padahal, akibat dosa itu lebih ketara dari bau busuk, jika kita merenunginya dan menganggap dosa sebagai sesuatu yang besar.
Orang yang merasa tak pernah salah, merassa diri telah sempurna, dia hanya mau dipuji, hanya mau menasehati, hanya mau mengoreksi, tidak mau dijadikan obyek dalam hal ini. Seorang salaf pernah berkata, “Saya heran terhadap orang yang senang ketika dipuji, padahal pujian itu tak ada pada dirinya. Dan saya heran terhadap orang yang marah ketika diingatkan salahnya, padahal kesalahan itu nyata ada pada dirinya.”
Beruntunglah orang yang sibuk mencari aib sendiri, sehingga dia menahan diri dari menggunjing, mencela dan melecehkan orang lain. Celakalah orang yang sibuk dengan aib orang lain, lalu melupakan kesalahan diri sendiri. Wallahul Musta’an (Abu Umar Abdillah)
Tuesday, April 17, 2007
Andai Dosa busuk baunya
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment